Materi SKI Kelas X-XI dan Al-Qur’an Hadis Kelas XI Semester Genap untuk Madrasah Aliyah

MATERI SKI KELAS X

BAB IV SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDIN

  1. Pengertian Khulafaur Rasyidin
  2. Biografi dan Proses Terpilihnya Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq (Kelompok 1)
  3. Biografi, Proses Pengangkatan, dan Gaya Kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab (Kelompok 2)
  4. Biografi, Proses Pengangkatan, dan Gaya Kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (Kelompok 3)
  5. Biografi, Proses Pengangkatan, dan Gaya Kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Thalib (Kelompok 4)
  6. Ibrah (Pelajaran) dari Biografi, Proses Pengangkatan, dan Gaya Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin (Kelompok 5)

BAB V STRATEGI DAN SUBSTANSI DAKWAH KHULAFAUR RASYIDIN

  1. Kebijakan dan Strategi Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq (Kelompok 6)
  2. Kebijakan dan Strategi Khalifah Umar bin Khattab (Kelompok 7)
  3. Kebijakan dan Strategi Khalifah Utsman bin Affan (Kelompok 8)
  4. Kebijakan dan Strategi Khalifah Ali bin Abi Thalib (Kelompok 9)
  5. Ibrah (Pelajaran) dari Kebijakan, Strategi, dan Kesulitan yang Dihadapi Pemerintahan Khulafaur Rasyidin (Kelompok 10)
  6. Kesulitan-Kesulitan yang Dihadapi Masa Pemerintahan Khulafaur Rasyidin

*****

MATERI SKI KELAS XI

BAB V PROSES LAHIR DAN FASE-FASE PEMERINTAHAN BANI ABBASIYAH

  1. Proses Lahirnya Bani Abbasiyah (Kelompok 1)
  2. Fase-Fase Pemerintahan Bani Abbasiyah (Kelompok 2)

BAB VI KHALIFAH-KHALIFAH ABBASIYAH YANG TERKENAL DAN KEBIJAKAN PEMERINTAHAN BANI ABBASIYAH

  1. Khalifah-Khalifah Bani Abbasiyah yang Terkenal (Kelompok 3)
  2. Kebijakan-Kebijakan Pemerintahan Bani Abbasiyah (Kelompok 4)

BAB VII PROSES PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN MASA BANI ABBASIYAH

  1. Suasana Tumbuhnya Peradaban Ilmu Pengetahuan Masa Abbasiyah (Kelompok 5)
  2. Bentuk Peradaban Hasil Riset dari Para Ahli dan Tokoh-Tokohnya (Kelompok 6)
  3. Pusat-Pusat Peradaban Masa Bani Abbasiyah (Kelompok 7)
  4. Pengaruh Peradaban Islam terhadap Dunia Barat (Kelompok 8)

BAB VIII KEHANCURAN MASA BANI ABBASIYAH

  1. Faktor Penyebab Munculnya Pemberontakan Masa Bani Abbasiyah (Kelompok 9)
  2. Faktor Penyebab Runtuhnya Bani Abbasiyah (Kelompok 10)

*****

MATERI AL-QUR’AN HADIS KELAS XI

BAB VI BETAPA BESAR TANGGUNG JAWABKU TERHADAP KELUARGA DAN MASYARAKAT

  1. Membaca dan Memahami QS. At-Tahrim (66): 6 (Kelompok 1)
  2. Membaca dan Memahami QS. Taha (20): 132 (Kelompok 2)
  3. Membaca dan Memahami QS. Al-An’am (6): 70 (Kelompok 3)
  4. Membaca dan Memahami QS. An-Nisa (4): 36 (Kelompok 4)
  5. Membaca dan Memahami QS. Hud (11): 117-119 (Kelompok 5)
  6. Membaca dan Memahami Hadis Nabi tentang Tanggung Jawab terhadap Keluarga dan Masyarakat (Kelompok 6)
  7. Sikap dan Perilaku sebagai Penghayatan dan Pengamalan Ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang Tanggung Jawab terhadap Keluarga dan Masyarakat

BAB VII BETAPA SEMANGATNYA AKU BERKOMPETISI DALAM KEBAIKAN

  1. Membaca dan Memahami QS. Al-Baqarah (2): 148 (Kelompok 7)
  2. Membaca dan Memahami QS. Fatir (35): 32 (Kelompok 8)
  3. Membaca dan Memahami QS. An-Nahl (16): 97 (Kelompok 9)
  4. Membaca dan Memahami Hadis Nabi tentang Kompetisi dalam Kebaikan (Kelompok 10)
  5. Sikap dan Perilaku sebagai Penghayatan dan Pengamalan Ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang Kompetisi dalam Kebaikan

BAB VIII BETAPA GIATNYA AKU BEKERJA

  1. Membaca dan Memahami QS. Al-Jumu’ah (62): 9-11 (Kelompok 1)
  2. Membaca dan Memahami QS. Al-Qasas (28): 77 (Kelompok 2)
  3. Membaca dan Memahami Hadis Nabi tentang Etos Kerja (Kelompok 3)
  4. Sikap dan Perilaku sebagai Penghayatan dan Pengamalan Ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang Etos Kerja

BAB IX HIDUP LEBIH SEHAT DENGAN MAKANAN YANG HALAL DAN BAIK

  1. Membaca dan Memahami QS. Al-Baqarah (2): 168-169 (Kelompok 4)
  2. Membaca dan Memahami QS. Al-Baqarah (2): 172-173 (Kelompok 5)
  3. Membaca dan Memahami Hadis Nabi tentang Makanan yang Halal dan Baik (Kelompok 6)
  4. Sikap dan Perilaku sebagai Penghayatan dan Pengamalan Ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang Makanan yang Halal dan Baik (Kelompok 7)

BAB X BETAPA BESAR SYUKURKU KEPADA-MU

  1. Membaca dan Memahami QS. Az-Zukhruf (43): 9-13 (Kelompok 8)
  2. Membaca dan Memahami QS. Al-‘Ankabut (29): 17 (Kelompok 9)
  3. Membaca dan Memahami Hadis Nabi tentang Mensyukuri Nikmat Allah SWT (Kelompok 10)
  4. Sikap dan Perilaku sebagai Penghayatan dan Pengamalan Ayat Al-Qur’an dan Hadits tentang Mensyukuri Nikmat Allah SWT

*****

Khutbah Jumat: Bagaimana Seharusnya Bijak Bermedia Sosial?

Masjid Ulul Albab Mansapa

Masjid Ulul Albab, MAN 1 Pati, Jawa Tengah.

Khutbah I

 الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْخَيْرَاتُ وَالْبَرَكَاتُ، وَبِتَوْفِيْقِهِ تَتَحَقَّقُ الْمَقَاصِدُ وَالْغَايَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ٬ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وقال تعالى وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Mari kita senantiasa meningkatkan ketaqwaan kita terhadap Allah SWT dengan cara mengerjakan segala yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya, di manapun dan kapan pun berada sebagai bentuk totalitas penghambaan kita kepada Allah SWT.

Dunia terus berkembang, termasuk cara berkomunikasi kita. Dulu banyak orang harus menempuh jarak yang jauh untuk bisa bercakap-cakap dengan orang lain di luar daerah. Sekarang, teknologi memfasilitasi umat manusia untuk kian mudah menjalin komunikasi hanya melalui perangkat di genggaman tangan, yakni gadget (gawai) dengan segala jenisnya. Situasi ini melanda hampir semua orang di berbagai belahan dunia, tak pandang agama, wilayah geografis, suku, ras, dan etnis. Kehadiran media sosial kian mempermudah lagi. Dalam hitungan detik kita sudah bisa berinteraksi dan berkirim pesan melalui tulisan, suara, gambar, bahkan video ke orang di belahan dunia lain. Luas bumi yang mencapai lebih dari setengah miliar kilometer persegi seolah mengkerut. Informasi beredar secara instan, kehidupan sosial banyak bergeser ke dunia maya, dan sebagian orang bahkan rela menghabiskan separuh waktunya untuk berselancar di internet atau media sosial.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Islam bukan agama yang anti perubahan. Namun demikian, ia punya prinsip-prinsip yang tidak boleh dilanggar. Kita seyogyanya memosisikan media sosial tak lebih dari sekadar alat, bukan tujuan. Media sosial sebagai wasîlah, bukan ghâyah. Kenapa? Sebagaimana pisau yang bermanfaat bila digunakan memasak dan merugikan bila dipakai melukai orang lain, begitu pula media sosial. Dalam dirinya terkandung potensi positif tapi sekaligus negatif. Semakin meningkatnya pengguna media sosial dari hari ke hari tak menjamin semakin berkualitas dari segi pemanfaatannya. Banyak kita jumpai media sosial menjadi ajang pamer (riya’) amal kebaikan—usaha mencari citra kesalehan di mata masyarakat. Dari sini kita secara tak langsung menggeser maksud ibadah yang semestinya untuk Allah menjadi untuk popularitas dan kebanggaan diri.

Media sosial juga kerap menjadi arena caci-maki antar kelompok yang berbeda agama, aliran, pandangan politik, dan sejenisnya. Tak jarang media sosial disesaki debat kusir saling menjatuhkan, ghibah (gosip), fitnah, berita bohong, hingga peningkatan jumlah musuh-musuh baru. Hanya berbekal jari tangan dan pikiran keruh dalam sekejap kita sudah membuat mudharat bagi pihak lain. Padahal dalam hadits shahih disebutkan bahwa di antara karakter seorang Muslim adalah mampu menjamin saudaranya dari malapetaka tangan dan lisannya.

 المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya: “Seorang Muslim adalah orang yang tidak melukai saudara Muslim lainnya baik dengan lisan dan tangannya”.

Imam Abu Hamid bin Muhammad al-Ghazali dalam kitab Bidâyatul Hidâyah menjelaskan bahwa lisan manusia terdiri dari dua jenis, yakni lidah yang berada di dalam mulut dan lidah berupa qalam (pena). Tulisan memiliki fungsi yang mirip dengan pembicaraan. Qalam dalam konteks hari ini bisa diidentikkan dengan media sosial yang memiliki peran yang sama, yakni memproduksi tulisan yang pengaruhnya bisa negatif maupun positif. Dengan demikian, sikap bijak kita terhadap media sosial termasuk ikhtiar kita untuk menjadi Muslim yang baik sebagaimana hadits di atas.

Adapun yang paling rentan dilupakan saat bermedia sosial adalah betapa berharganya waktu. Berbagai kemudahan yang disediakan sering membuat pengguna berselancar berjam-jam melewati batas kebutuhan semestinya. Orang kadang tak hanya bertegur sapa dengan sesama atau publikasi aktivitas di medsos, tapi juga sampai pada kegiatan-kegiatan mubazir bahkan maksiat. Saat seseorang terlalu tergantung pada media sosial, pertanyaan penting yang perlu disodorkan adalah siapa yang sesungguhnya lebih berkuasa: Media sosial atau manusianya? Manusia dianugerahi akal sehat, hati nurani, yang memungkinkan dia berlaku bijaksana. Sebagaimana perangkat dunia lainnya, tak seharusnya manusia diperbudak media sosial, justru semestinya ia mengendalikannya.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Sebagai wasîlah, media sosial juga merupakan perantara bagi banyak sekali hal baik. Melalui media sosial, seseorang dengan mudah bersilaturahim dengan orang lain yang di dunia nyata terkendala jarak geografis. Media sosial punya fungsi mempersatukan yang semula terpisah, memberi ruang komunikasi yang semula tanpa kabar.

Fungsi positif lain dari media sosial adalah menjadi alat yang bagus untuk mendistribusikan pesan kebaikan secara luas dengan mudah. Kita dengan mudah membagikan informasi, misalnya, soal cara mendidik buah hati, tips hidup sehat, atau wawasan bermanfaat lain, hingga menjadikan media sosial sebagai media syiar yang memberi pendidikan kepada publik tentang nilai-nilai Islam yang mencerahkan dan rahmatan lil ‘alamin. Firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 35 menyebutkan:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah wasîlah yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihadlah pada jalan-Nya supaya kalian mendapat keberuntungan“.

Wasîlah dalam konteks ini bisa kita perluas pengertiannya mencakup berbagai jalan, mekanisme, atau sarana yang bermanfaat bagi kebaikan, terutama untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika media sosial adalah wasîlah, maka ghâyah-nya adalah Allah SWT. Sekali lagi, fungsi positif media sosial tersebut bisa maksimal kita realisasikan ketika kitalah yang benar-benar menguasai media sosial, bukan dikuasai. Medsos hanya menjadi elemen sekunder bagi aktivitas kebaikan, bukan sebaliknya medsos mendorong kita untuk terperosok pada perbuatan sia-sia, atau bahkan merugikan.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Melalui paparan khutbah ini, bisa disimpulkan bahwa setidaknya ada dua sikap dalam merespon kehadiran media sosial. Pertama, menyadari betul bahwa ia tak lebih dari sebatas wasîlah, perantara, atau alat. Kesadaran ini akan mendorong kita untuk tidak terbuai dengan medsos itu sendiri, melainkan pada apa tujuan pokok penggunaan perangkat dunia maya ini. Kedua, menjadikannya sebagai sarana yang tak hanya baik tapi juga bermanfaat. Tidak menimbulkan kemudharatan kepada pihak lain melalui media sosial adalah sesuatu yang baik. Tapi akan lebih baik lagi bila media sosial memberikan faedah bagi orang lain lewat konten-konten yang kita suguhkan. Bukankah “khairunnâs anfa‘uhum lin nâs” (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya). Semoga kita semua tetap teguh dalam iman dan Islam, sehingga mampu mendudukkan diri secara proporsional dan menebar kemanfaataan bagi manusia dan alam sekitar. Wallahu a’lam.

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكُمْ مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكُمْ فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ: أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ.

*****

Khutbah  II

 اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثيْرًا٬ أَمَّا بَعْدُ.

فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.

 

*****

Unduh Versi Pdf -> Khutbah Jumat – Bagaimana Seharusnya Menyikapi Media Sosial

Note:

Khutbah disampaikan pada hari Jumat, 13 Desember 2019 di Masjid Ulul Albab, MAN 1 Pati, Jawa Tengah.

Khutbah ini diambil dari tulisan Bp. Alif Budi Luhur dengan sedikit perubahan, selengkapnya bisa diakses di sini.

Berbeda Itu Indah, Sahabat!

IMG-20191005-WA0100

Kesyahduan yang tak terkirakan Squad 204 Angkatan XV. (dok.pri)

Latsar (Latihan Dasar) merupakan satu hal yang ditunggu oleh semua CPNS di seluruh penjuru negeri ini. Latsar merupakan pintu gerbang perubahan status dari CPNS akan hilang C-nya, sehingga sah secara kaffah menjadi PNS. Sebuah pekerjaan yang masih menjadi idaman dan dilirik calon mertua di manapun berada serta menjanjikan prestise di tengah masyarakat.

Seperti mendapat lentera yang bercahaya di tengah gelap gulitanya malam, panggilan Latsar seakan menjadi kebahagiaan yang tak terkira. Apalagi bisa bergabung dengan kelompok angkatan XV yang berlokasi di Plaza Hotel Semarang (20/9-7/10), sungguh anugerah yang luar biasa. Tidak tahu arah rimbanya mungkin bila tidak berlabuh di XV yang terkenal dengan STM-15 (baca: Sekolah Tinggi Musik/Sekolah Tinggi Melawak).

Kelompok XV merupakan miniatur keharmonisan haqiqi yang layak menjadi role model sebuah komunitas yang ideal di republik ini. Berbagai karakter ada di kelompok ini, bak cerita sinetron yang kadang serba kebetulan, maka angkatan XV ini semua karakter ada, semua bersatu padu dalam harmoni, itulah Indonesia. Semua status sosial dan posisi bawaannya mampu dilepaskan dengan selepas-lepasnya.

Ada sosok ketua kelas, akhinal khirom Apriyanto, kebotakan (peace!) tak mampu menghalangi dedikasinya, walaupun kadang agak gimana, karena sering berceloteh dengan guru penjaskesnya, tapi mampu mengkoordinasi semua kegiatan kelas dengan baik dan tuntas. Perlu apresiasi setinggi-tingginya dan bingkisan dari teman-teman mungkin, hehe. Ada paras nan rupawan, al-ustadz Ahmad Mudhofir (baca: MDR) yang mampu menjadi maskot kelas dengan love story-nya. Apa jadinya kelas ini tanpa MDR, seperti kembang tebu sing kabur kanginan, ambyaaar.

Ada sosok pak guru Budi, sang master konduktor yang tak terkalahkan. Juara tak akan tersemat di kelas ini tanpa kemolekan jari jemarinya (tepuk tangan!). Kakanda Sopar dengan quote-nya perkenalkan dan perkenankanlah. Ayahanda Bayu dengan kebapakan dan kebijaksanaannya. Sahabat Roni dengan diam itu emas-nya, sungguh menggoreskan kesan berbeda di kelas ini.

Belum lagi sederet artis papan atas bawah yang meramaikan kelompok ini, mereka menjadi air segar di tengah prahara panasnya Rancangan Aktualisasi (RA). Ada sahabat Arifana dengan sosok cak Lontong-nya, serius, berbobot, dan penuh tawa. Sahabat Al-Farabi dengan Saykoji-nya, agak cuek sih, tapi murah senyum dan selalu ceria. Ada mas Alvin M.K. dengan Just Alvin-Nya, Mbak Yeni Wah Hot (Mbak Arin), dan Teh Nunung (Mbak Armi) yang memperkaya karakter artis kelas ini.

Dan tentu saya ucapan terima kasih kepada teman kamarku, squad kamar 204, kalian luar biasa. Ada mas Agung (IAIN Pekalongan), sosok dosen yang kebapakan, murah senyum, dan selalu ceria (walo sebenarnya kadang ambyar, xixi). Ada mas Adit (MTsN 2 Bantul), ahli bahasa dan sastra Indonesia, gigih berjuang mewujudkan Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing. Terakhir ada mas Arif S (MAN 2 Bantul), sosok guru olahraga yang pendiam, mengikuti arus, namun memiliki kedisiplinan yang tinggi.

Dan saya sendiri, sosok yang biasa saja, sejarah tidak perlu mencatatnya, karena saya adalah pencatat sejarah, hehe. Quote-quote yang sebenarnya bukan quote yang secara sporadis muncul ketika Latsar ini adalah walimatul udud, kesyahduan, departemen perabian (baca: KUA), dll, dsb, lsp, etc (skype aja yah). Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada angkatan XV yang telah memberikan pengalaman yang luar biasa, bagi saya yang biasa-biasa saja ini.

Oza, saya ngomong apa sih, kok tiba-tiba sudah selembar lebih aja, hehe. Intinya kelas kita itu sungguh berbeda dari lainnya, dari karakter serius tingkat dewa sampai humoris ke akar-akarnya. Ibarat kebun, kita telah berhasil menjadi taman bunga, warna-warni ceria dengan aneka macam bunga dan aroma, semua saling mengisi dan melengkapi, tidak ada yang sok pintar dan sok bodoh, semua berharmoni dalam alunan musik yang indah. Teruntuk angkatan XV semoga persaudaraan dan silaturahim ini selalu terjalin dan terjaga selamanya, selamat berjalan dan berjuang di luasnya hamparan permadani kehidupan di masing-masing satkernya. Jadi, bukankah berbeda itu indah, sahabat!    

^-^

Semarang, 4 Oktober 2019

Abdul Ghofur

Note:

Tulisan ini merupakan salah satu tulisan dalam bunga rampai yang berjudul “STM XV (Bukan) Untuk Dikenang, Angkatan XV Golongan III CPNS Kemenag 2019”. ISBN buku bisa dicek di sini.

IMG-20191106-WA0013

IMG-20191103-WA0017

Buku: “STM XV (Bukan) Untuk Dikenang” (ISBN: 978-623-7612-08-7)

Kisi-Kisi Penilaian Akhir Semester (PAS) SKI dan Al-Qur’an Hadits Madrasah Aliyah Gasal 2019-2020

Kisi-kisi (Gambar)

Assalamu’alaikum Wr. Wb.,

Berikut kami sampaikan kisi-kisi Penilaian Akhir Semester (PAS) Semester Gasal Tahun Pelajaran 2019-2020 untuk mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Kelas X, XI, dan XII serta Al-Qur’an Hadits Kelas XI sebagai panduan dalam belajar, terkhusus untuk siswa/i MAN 1 Pati. Adapun kisi-kisi dapat didownload di bawah ini:

1. SKI Kelas X: KISI-KISI SOAL PAS SKI KELAS X GASAL 2019-2020

2. SKI Kelas XI: KISI-KISI SOAL PAS SKI KELAS XI GASAL 2019-2020

3. SKI Kelas XII: KISI-KISI SOAL PAS SKI KELAS XII GASAL 2019-2020

4. Al-Qur’an Hadits Kelas XI: KISI-KISI SOAL PAS AL-QURAN HADITS KELAS XI GASAL 2019-2020

Selamat belajar, semoga sukses dan berhasil. Jangan lupa minta doa restu kedua orang tua agar semua lancar dan mendapatkan yang terbaik. Aamin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

*****

Salam hangat,

Abdul Ghofur

 

Proses Perkembangan Ilmu Pengetahuan Masa Bani Umayyah I

Oleh: Abdul Ghofur

A. Ruang Lingkup Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan (Inggris: science; Arab: العِلْـمُ) adalah usaha-usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu (https://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu).

Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah di Damaskus meliputi 3 bidang, yaitu bidang diniyah, bidang tarikh, dan bidang filsafat. Pada masa itu kaum muslimin memperoleh kemajuan yang sangat pesat, tidak hanya penyebaran agama Islam saja, tetapi juga penemuan-penemuan ilmu lainnya. Pembesar Bani Umayyah secara khusus menyediakan dana tertentu untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Para khalifah mengangkat ahli-ahli cerita dan mempekerjakan mereka dalam lembaga-lembaga ilmu, berupa masjid-masjid dan lembaga lainnya yang disediakan oleh pemerintah. Kebijakan ini mungkin karena didorong oleh beberapa hal:

  1. Pemerintah Bani Umayyah dibina atas dasar kekerasan karena itu mereka membutuhkan ahli syair, tukang kisah, dan ahli pidato untuk bercerita menghibur para khalifah dan pembesar istana;
  2. Jiwa Bani Umayyah adalah jiwa Arab murni yang belum begitu berkenalan dengan filsafat dan tidak begitu serasi dengan pembahasan agama yang mendalam. Mereka merasa senang dan nikmat dengan syair-syair yang indah dan khutbah-khutbah balighah (berbahasa indah).

B. Fokus Gerakan Ilmu Pengetahuan dan Budaya

Para ahli sejarah menyimpulkan bahwa perkembangan gerakan ilmu pengetahuan dan budaya pada masa Bani Umayyah I di Damaskus memfokuskan pada tiga gerakan besar yaitu:

  1. Gerakan ilmu agama, karena didorong oleh semangat agama yang sangat kuat pada saat itu;
  2. Gerakan filsafat, karena ahli agama di akhir Daulah Umayyah I terpaksa menggunakan filsafat untuk menghadapi kaum Nasrani dan Yahudi; dan
  3. Gerakan sejarah, karena ilmu-ilmu agama memerlukan riwayat.

 

C. Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Pengembangan budaya, filsafat, dan ilmu pengetahuan pada masa Bani Umayyah I di Damaskus difokuskan pada beberapa bidang di antaranya:

  1. Ilmu Tafsir. Setelah Daulah Umayyah I di Damaskus berdiri, kaum muslim berhajat kepada hukum dan undang-undang yang bersumber dari al-Qur’an, sedangkan para qurra dan mufassirin menjadi tempat bertanya masyarakat dalam bidang hukum. Pada zaman ini keberadaan tafsir masih berkembang dalam bentuk lisan dan belum dibukukan. Ilmu tafsir pada saat itu belum berkembang seperti pada zaman Bani Abbasiyah.
  2. Ilmu Hadis. Pada saat mengartikan makna ayat-ayat al-Qur’an, kadang-kadang para ahli hadis kesulitan mencari pengertian dalam hadis karena terdapat banyak hadis yang sebenarnya bukan hadis. Dari kondisi semacam ini maka timbullah usaha para muhadditsin untuk mencari riwayat dan sanad hadis. Proses seperti ini pada akhirnya berkembang menjadi ilmu hadis dengan segala cabang-cabangnya. Perkembangan hadits diawali dari masa khalifah Umar bin Abdul Aziz dan ulama hadits yang mula-mula membukukan hadis yaitu Ibnu Az-Zuhri atas perintah khalifah Umar bin Abdul Aziz.
  3. Ilmu Qira’at. Dalam sejarah perkembangan ilmu, yang pertama kali berkembang adalah ilmu qiraat. Cabang Ilmu ini mempunyai kedudukan yang sangat penting pada permulaan Islam sehingga orang-orang yang pandai membaca al-Qur’an pada saat itu disebut para Qurra. Setelah pembukuan dan penyempurnaan al-Qur’an pada masa Khulafaur Rasyidin dan al-Qur’an yang sah dikirim ke berbagai kota wilayah bagian, kemudian lahirlah dialek bacaan tertentu bagi masing-masing penduduk kota tersebut dan mereka mengikuti bacaan seorang qari’ yang dianggap sah bacaannya. Akhirnya muncul dan masyhurlah tujuh macam bacaan yang sekarang terkenal dengan nama Qiraat sab’ah kemudian selanjutnya ditetapkan sebagai bacaan standar.
  4. Ilmu Nahwu. Dengan meluasnya wilayah Islam dan didukung dengan adanya upaya Arabisasi maka ilmu tata bahasa Arab sangat dibutuhkan. Sehingga dibukukanlah ilmu nahwu dan menjadi salah satu ilmu yang penting untuk dipelajari. Memulai mempelajari tata Bahasa Arab yang dikenal dengan nama nahwu adalah ketika seorang bayi memulai berbicara di lingkungannya. Tanpa tata bahasa maka pembicaraan tidak akan baik dan benar. Setelah banyak bangsa di luar bangsa Arab masuk Islam dan sekaligus wilayahnya masuk dalam daerah kekuasaan Islam maka barulah terasa bagi bangsa Arab dan mulai di perhatikan dengan cara menyusun ilmu nahwu. Adapun ilmuwan bidang bahasa pertama yang tercatat dalam sejarah perkembangan ilmu yang menyusun ilmu nahwu adalah Abu al-Aswad al-Dualy yang berasal dari Baghdad. Salah satu jasa dari Al-Dualy adalah menyusun gramatika Arab dengan memberikan titik pada huruf-huruf hijaiyah yang semula tidak ada. Abu Aswad Al-Dualy wafat tahun 69 H. Tercatat beliau belajar dari sahabat Ali bin Abi Thalib, ada ahli sejarah mengatakan bahwa sahabat Ali bin Abi Thalib-lah bapaknya ilmu nahwu.
  5. Tarikh dan Geografi. Geografi dan tarikh pada masa ini telah menjadi cabang ilmu tersendiri. Dalam mengembangkan ilmu tarikh ilmuwan pada masa ini mengumpulkan kisah tentang Nabi dan para Sahabatnya yang kemudian dijadikan landasan bagi penulisan buku-buku tentang penaklukan (maghazi) dan biografi (shirah). Munculnya ilmu geografi dipicu oleh berkembangnya dakwah Islam ke daerah-daerah baru yang luas dan jauh. Penulisan sejarah Islam dimulai pada saat terjadi peristiwa-peristiwa penting dalam Islam dan dibukukannya dimulai pada saat Bani Umayyah dan perkembangan pesat terjadi pada saat Bani Abbasiyah. Demikian begitu pesatnya perkembangan sejarah Islam sehingga para ilmuan berkecimpung dalam bidang itu dapat mengarang kitab-kitab sejarah yang tidak dapat dihitung banyaknya. Sampai sekarang prestasi penulisan sejarah pada saat Bani Umayyah dan Abbasiyah tidak dapat ditandingi oleh bangsa manapun, tercatat kitab sejarah yang ditulis pada zaman itu lebih dari 1.300 judul buku.
  6. Seni Bahasa. Umat Islam masa Bani Umayyah selain telah mencapai kemajuan dalam bidang politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan, juga telah tumbuh dan berkembang seni bahasa. Perhatian kepada syair Arab Jahiliyah timbul kembali dan penyair-penyair Arab barupun timbul, seperti Umar Ibn Abi Rabi’ (w. 719 M), Jamil Al-Udhri (w. 701 M), Qays Ibn Al-Mulawwah (w. 699 M) yang lebih dikenal dengan nama Majnun Laila, Al-Farazdaq (w. 732 M), Ummu Jarir (w. 792 M), penyair yang mendukung dan memelihara kemulian Badui dan yang syair-syairnya menonjol karena nafas-nafas spiritualnya, dan Al-Akhtal (w. 710 M) yang beragama Kristen aliran Jacobite. Pada masa ini seni dan bahasa mengambil tempat yang penting dalam hati pemerintah dan masyarakat Islam pada umumnya. Pada saat kota-kota seperti Bashra dan Kuffah adalah pusat perkembangan ilmu dan sastra. Orang-orang Arab muslim berdiskusi dengn bangsa-bangsa yang telah maju dalam hal bahasa dan sastra. Di kota-kota tersebut umat Islam menyusun riwayat Arab, seni bahasa dan hikmah atau sejarah, nahwu, sharaf, balaghah, dan juga berdiri klub-klub para pujangga. Pada masa ini juga muncul terjemahan-terjemahan awal naskah-naskah filsafat Yunani dari bahasa Suryani ke bahasa Arab.

*****

Daftar Pustaka

https://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu (Diakses 13 Oktober 2019)

M. Husain Tuanaya, dkk. 2015. Sejarah Kebudayaan Islam; Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013. Jakarta: Kemenag RI.

Proses Kodifikasi Hadits Masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Oleh: Abdul Ghofur

A. Pengertian Kodifikasi Hadits

Kodifikasi dalam bahasa Arab dikenal dengan al-tadwin yang berarti codification yaitu mengumpulkan dan menyusun. Secara istilah kodifikasi hadis adalah penulisan dan pembukuan hadits secara resmi berdasarkan perintah khalifah dengan melibatkan beberapa personel yang ahli dalam masalah ini, bukan yang dilakukan secara perseorangan atau untuk kepentingan pribadi. Jadi tadwin al-hadits (kodifikasi hadits) dapat dipahami sebagai penghimpunan, penulisan, dan pembukuan hadits Nabi atas perintah resmi dari penguasa Negara (khalifah) bukan dilakukan atas inisiatif perorangan atau untuk keperluan pribadi.  Usaha ini mulai direalisasikan pada masa pemerintahan khalifah ke-8 Bani Umayyah yaitu khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H/ 717-720 M), melalui instruksinya kepada gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm yang berbunyi:

Periksalah hadits Nabi Muhammad SAW dan tuliskanlah karena aku khawatir bahwa ilmu (hadits) akan lenyap dengan meninggalnya ulama dan tolaklah hadits selain dari Nabi Muhammad SAW, hendaklah hadits disebarkan dan diajarkan dalam majelis-majelis sehingga orang-orang yang tidak mengetahui menjadi mengetahuinya, sesungguhnya hadits itu tidak akan rusak sehingga disembunyikan (oleh ahlinya).”

Atas instruksi ini, Ibnu Hazm lalu mengumpulkan hadits-hadits Nabi, baik yang ada pada dirinya maupun pada ‘Amrah, murid kepercayaan Siti Aisyah. Di samping itu, khalifah Umar bin Abdul Aziz juga menulis surat kepada para pegawainya di seluruh wilayah kekuasaannya, yang isinya sama dengan isi suratnya kepada Ibnu Hazm. Orang pertama yang memenuhi dan mewujudkan keinginannya ialah seorang alim di Hijaz yang bernama Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri al-Madani (124 H) yang menghimpun hadits dalam sebuah kitab. Khalifah lalu mengirimkan catatan itu ke setiap penjuru wilayahnya.  Menurut para ulama, hadits-hadits yang dihimpun oleh Abu Bakar bin Hazm masih kurang lengkap, sedangkan hadits-hadits yang dihimpun oleh Ibnu Syihab al-Zuhri dipandang lebih lengkap. Akan tetapi, sayang sekali karena karya kedua tabi’in ini lenyap sehingga tidak sampai kepada generasi sekarang.

Para sarjana hadits, seperti ‘Ajjaj al-Khatib, Mustafa Husni as-Siba’i, Muhammad Jamaluddin al-Qasimi, Nu’man Abd al-Mu’tal, Muhammad al-Zafaf, dan lain-lain, menemukan dokumen yang bersumber dari Imam Malik bin Anas bahwa kodifikasi hadits ini adalah atas prakarsa khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan menugaskan kepada Ibnu Syihab az-Zuhri dan Ibnu Hazm untuk merealisasikannya. Begitu juga Umar bin Abdul Aziz menugaskan kepada ulama-ulama lain di berbagai penjuru untuk ikut serta membantu pelaksanaan kodifikasi hadits Nabi tersebut.

B. Latar Belakang Kodifikasi Hadits

Munculnya kegiatan untuk menghimpun dan membukukan hadits pada periode ini dilatarbelakangi oleh beberapa faktor di antaranya adalah kekhawatiran akan hilangnya hadis-hadis Nabi disebabkan meninggalnya para sahabat dan tabi’in yang benar-benar ahli di bidangnya sehingga jumlah mereka semakin hari semakin sedikit. Hal ini kemudian memicu para ulama untuk segera membukukan hadits sesuai dengan petunjuk sahabat yang mendengar langsung dari Nabi. Di samping itu  pergolakan politik pada masa sahabat setelah terjadinya perang Siffin yang mengakibatkan perpecahan umat Islam kepada beberapa kelompok. Hal ini secara tidak langsung memberikan pengaruh negatif kepada otentitas hadits-hadits Nabi dengan munculnya hadits-hadits palsu yang sengaja dibuat untuk mendukung kepentingan politiknya masing-masing kelompok sekaligus untuk mempertahankan ideologi golongannya demi mempertahankan madzhab mereka.

Kebijakan khalifah Umar bin Abdul Aziz dilakukan karena kondisi di lapangan, hadis telah diselewengkan dan telah bercampur aduk dengan ucapan-ucapan israiliyat, hadits difungsikan untuk menguatkan kedudukan kelompok-kelompok tertentu seperti Bani Umayyah, kelompok khawarij, dan kelompok syiah yang saling berebut membuat hadits-hadits untuk menguatkan eksistensi kelompok masing-masing. Adapun menurut Muhammad al-Zafzaf kodifikasi hadits dilatarbelakangi:

  1. Para ulama hadits telah tersebar ke berbagai negeri, dikhawatirkan hadits akan hilang bersama wafatnya mereka, sementara generasi penerus diperkirakan tidak menaruh perhatian terhadap hadits;
  2. Banyak berita yang diada-adakan oleh orang-orang yang suka berbuat bid’ah seperti khawarij, rafidhah, syiah, dan lain-lain yang berupa hadits.

C. Sistematika Kodifikasi Hadits

Terdorong oleh kemauan keras untuk mengumpulkan hadits priode awal kodifikasi, pada umumnya para ulama dalam membukukannya tidak melalui sistematika penulisan yang baik, dikarenakan usia kodifikasi yang relatif masih muda sehingga mereka belum sempat menyeleksi antara hadits Nabi dengan fatwa-fatwa sahabat dan tabi’in, bahkan lebih jauh dari itu mereka belum mengklasifikasi hadits menurut kelompok-kelompoknya. Dengan demikian karya ulama pada periode ini masih bercampur aduk antara hadits dengan fatwa sahabat dan tabi’in. Walhasil, bahwa kitab-kitab hadits karya ulama-ulama pada masa ini belum dipilah-pilah antara hadits marfu’ mauquf dan maqthu’ serta di antara hadits sahih, hasan, dan dha’if.  Namun tidak berarti semua ulama hadits pada masa ini tidak ada yang membukukan hadits dengan lebih sistematis, karena ternyata ada di antara mereka telah mempunyai inisiatif untuk menulis hadits secara tematik, seperti Imam Syafi’i yang mempunyai ide cemerlang mengumpulkan hadits-hadits berhubungan dengan masalah talak ke dalam sebuah kitab. Begitu juga karya Imam Ibnu Hazm yang hanya menghimpun hadits-hadits dari Nabi ke dalam sebuah kitab atas instruksi dari Umar bin Abdul Aziz “Jangan kau terima selain hadits Nabi SAW saja.

Kemudian pembukuan hadits berkembang pesat di mana-mana, seperti di kota Makkah hadits telah dibukukan oleh Ibnu Juraij dan Ibnu Ishaq, di Madinah oleh Sa’id bin Abi ‘Arubah, Rabi’ bin Shobih, dan Imam Malik, di Basrah oleh Hamad bin Salamah, di Kufah oleh Sufyan Assauri, di Syam oleh Abu Amr al-Auza’i dan begitu seterusnya.

*****

Daftar Pustaka

‘Ajjaj Al Khatib. 1981. As- Sunnah Qabla Tadwin. Kairo: Dar al-Fikr.

Dedi Supriyadi. 2018. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Idri. 2010. Studi Hadis. Jakarta: Fajar Interpratama Offset.

Husain Tuanaya, dkk. 2015. Sejarah Kebudayaan Islam; Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013. Jakarta: Kemenag RI.

Mudasir. 2005. Ilmu Hadits. Bandung: Pustaka Setia.

Muhammad al-Zafzaf. 1979. Al-Ta’rif fi al-Qur’an wa al-Hadits. Kuwait: Maktabah al-Falah.

Subhi as-Salih. 2007. Membahas Ilmu-Ilmu Hadis, terj. Tim Pustaka Firdaus. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Utang Ranuwijaya. 2001. Ilmu Hadis. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Parikan – Nasionalisme

Oleh: Abdul Ghofur

Blumbang akeh iwake

Ditimbang podho regane

Ojo takon awake dhewe

Sing paling dhuwur nasionalismene

***

Mlaku-mlaku ning pasar tuku tape

Mboten kesupen tumbas sayur sak bumbone

Sedulur-sedulurku sak sekabehane

Ampun kesupen ningkataken nasionalismene

***

Kembang mawar kembang sepatu

Ditandur ing Gunung Lawu

Tresno’o marang tanah kelahiranmu

Supados mukti anak turunmu

***

Semarang, 27 September 2019